Kamis, 06 Januari 2011

akhlaq pada Manusia

 Akhlaq Manusia

1.      Pendahuluan
Kedudukan akhlaq dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai indivividu maupun masyarakat bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaqnya.[1]
2.      Pengertian Akhlaq
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.[2]
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) manusia Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan rahmat allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut allah. ( QS. Al – Ahzab 33 : 21)
Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.









Macam – macam Akhlaq
1.      Akhlaq Mahmudah
sebagaimana kita ketahui bahwa Allah SWT mengutus para Rasul antara lain untuk menjadi suri teladan yang baik (uswatun hasanah), yaitu untuk mengajarkan budi pekerti (akhlak) yang luhur. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur.” (HR. Ahmad). Akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ini disebut akhlak mahmudah (akhlak yang terpuji) yang tentu saja harus kita teladani, kita harus memiliki akhlak yang mahmudah ini dan menjadikannya sebagai penghias hidup kita.

Sebagai seorang muslim,kita haruslah memiliki sifat2 mahmudah antaranya :
a.      Sabar
Sabar ialah kesanggupan seseorang menahan dan mengawal perasaan dari sifat - sifat mazmumah (tercela).

b.      Syukur
Syukur ialah menyatakan penghargaan atau terima kasih atas apa kebaikan yg diterima.

c.       Amanah
Amanah ialah satu sifat yg boleh dipercayai dan jujur apabila diminta untuk menyampaikan atau mengerjakan sesuatu pekerjaan.

d.      Tawakkal
Tawakkal ialah menyerah natijah atau sesuatu perkara kepada Allah S.W.T setelah berusaha sedaya upaya melakukannya.

e.      Tawaduk
Tawaduk ialah satu sifat tidak merasa bangga, tinggi diri dan sombong atas kelebihan yg ada pd dirinya dan tidak memandang rendah keatas kekurangan dan kelemahan orang lain.
f.        Ikhlas dan benar
ialah mukmin yang sentiasa membersihkan amalannya dinamakan orang yang benar ikhlas. Setiap amalan ibadah atau pekerjaan agama hendaklah dilaksanakan dengan ikhlas hati, ihsan kepada Allah dengan sebenar-benar ibadah seolahnya Allah berada dihadapan kita.
g.      Mahabbah (cinta Allah dan Rasul)
ialah kasih seorang mukmin kepada Allah dan RasulNya melebihi segala yang lain. Melahirkan jiwa insan yang benar-benar cintakan agama dan rela mengorban dirinya ke jalan Allah.
h.      Takut Allah
ialah seorang muslim itu mengenali zat Allah melalui mengenal sifat-sifat Allah dan mempunyai jiwa yang takut akan melakukan perkara dosa atau perkara yang dilarang oleh Islam.
i.        Zuhud
ialah satu corak kehidupan insane mukmin yang mengekang jiwadaripada segala rupa kesenangan dunia sambil berusaha meninggalkan semua perkara yang tidak baik.
j.        Taubah
ialah keazaman untuk meninggalkan segala kesalahan dan dosa-dosa besar, melalui jalan ilmu, penyesalan dan niat untuk tidak mengulanginya (taubat Nasuha).
2.      Akhlak Karimah
a.      Pengertian Akhlakul  Karimah
Kata akhlakul karimah berasal dari bahasa arab yang dapat diartikan budi pekerti mulia atau tingkah laku mulia. Dan akhlakul karimah itu sendiri memiliki arti akhlak mulia, budi pekerti mulia ataupun tikah laku mulia. Sedangkan akhlak itu sendiri merupakan perbuatan atau tingkah laku yang baik yang berasal dari hati atau atas kesadaran jiwanya tanpa memerlukan pertimbangan dan tanpa ada unsur pemaksaan, kemudian diwujudkan dalam perbuatan yang berulang-ulang sehingga menjadi adat yang akhirnya menjadi sifat. Sifat itu sendiri merupakan sebagian dari kepribadiaan. Sehingga sulit untuk diubah karena telah tertanam dalam kepribadian. Jadi akhlakul karimah itu sendiri adalah perbuatan-perbuatan baik atau terpuji yang lahir dari diri sediri[3].
Al-Ghazali menerangkan adanya empat pokok keutamaan akhlak yang baik yaitu sebagai berikut[4]:
1.      Mencari hikmah. Hikmah ialah keutamaan yang lebih baik.
2.      Bersikap berani. Berani berarti sikap yang dapat mengendalikan kekuatan amarahnya dengan akal untuk maju.
3.      Bersuci diri. Suci berarti mencapai fitrah, yaitu  sikap yang dapat mengendalikan syahwatnya dengan akal dan agama.
4.      Berlaku adil. Adil, yaitu seseorang yang dapat memberi dan membagi haknya sesuai dengan fitrahnya.
b.      Ruang Lingkup Akhlakul Karimah
Akhlak islam adalah sama dengan ruang lingkup ajaran islam itu sendiri yang mencakup berbagai aspek yaitu dimulai dari akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap lingkugan yaitu terhadap binatang, tubuh-tumbuhan dan makhluk-makhluk  yang  bernyawa.
a.      Akhlak kepada Allah
Akhlakul karimah kepada Allah pada prinsipnya dapat diartikan penghambaan diri kepadanya atau dapat diartikan sebagai  sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan  manusia sebagai kahlik kepada Tuhannya. Sebagai makhluk yang dianugerahi akal sehat, kita wajib menempatkan diri kita pada posisi yang tepat, yakni sebagai penghambahan dan menempatkannya sebagai  sebagi satu-satunya zat yang kita per-Tuhan.


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a pabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah ia memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu ada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah:186).
Dan ada emapat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah :
1.      Allah telah menciptakan manusia
2.      Allah yang telah memberikan perlengkapan pancaindra
3.      Allah yang telah memberikan berbagai bahan dan sarana yang perlukan bagi kelangsungan hidup manusia
4.      Allah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.
b.      Akhlakul karima terhadap sesama manusia
Akhlakul karimah terhadap manusia pada dasarnya bertolak kepada keluhuran budi dalam menempatkan diri kita dan memempatkan diri orang lain pada posisi yang tepat. Hal ini merupakan refleksi dari totalitas kita dalam menghambakan diri kita kepada Allah SWT. Sehingga akhlakul karimah yang kita alamatkan terhadap sesama manusia semata-mata didasari oleh akhlakul karimah yang kita persembahkan kepadanya. Akhlak terhadap sesama manusia bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif, tapi juga kita diajarkan bagaimana berprilaku yang baik  terhadap sesama manusia. Al-Qur’an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Sehingga akan terwujud keharmonisan atau kerukunan tehadap sesama.

c.       Akhlakul karimah terhadap lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda yang tak bernyawa. Akhlakul karimah terhadap lingkungan pada dasarnya menempatkan sesuatu itu sesuai dengan posisinya masing-masing. Ia merupakan refleksi dari totalitas penghambaan diri kita pada Allah SWT. Sehingga apa yang kita perbuat kepada mereka, semata-mata hanya didasari oleh akhllakul karimah kita kepada Allah SWT. Akhlak yang diajarkan al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antar manusia dengan sesamanya dan manusia tehadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya[5].
c.       Bentuk-bentuk Akhlak Baik
1.      Bersifat sabar
Ada pribahasa mengatakan bahwa kesabaran itu pahit laksamana jadam, namun akibatnya lebih manis dari pada madu. Ungkapan tersebut menunujukan hikmah kesabaran sebagai fadhilah, kesabaran itu sendiri dapat dibagi menjadi 4 katagori :
a.      Sabar menanggung beratnya melaksanakan hidup.
b.      Sabar menaggung musibah atau cobaan.
c.       Sabar menahan penganiyayaan dari orang.
d.      Sabar menaggung kemiskinan dan kepapaan.
Dan kebalikan dari sifat sabar adalah sifat putus asa.
2.      Bersifat benar (istiqamah)
Didalam pribahasa sering disebut berani karena benar, takut karena salah. Betapa akhlakul karimah menimbulkan ketenangan batin, yang dari situ dapat melahirkan kebenaran. Sebagai kebalikan dari kebenaran dan kejujuran adalah dusta dan curang.
3.      Memelihara amanah
Amanah menurut bahasa (etimologi) ialah kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan (istiqamah) atau kejujuran. Kebalikanya ialah khianat. Khianat adalah salah satu sifat munafik.
4.      Bersifat adil
Adil merupakan member hak kepada yang mempunyai hak, tanpa mengurangi haknya dan mengambil haknya sendiri dengan cara yang benar. Sebagai kebalikan dari sifat adil adalah sikap zalim.
5.      Bersifat kasih sayang
Pada dasarnya sifat kasih sayang (ar-rahman) adalah fitrah yang dianugrahkan Allah kepada makhluk. Islam menghendaki agar sifat kasih sayang dan sifat belah kasih dikembangkan secara wajar. Dan manakala sifat ar-rahman ini terhujam kuat dalam diri pribadi seseorang dapat menimbulkan berbagai sikap akhlakul mahmudah.
6.      Bersifat hematan
segala sesuatu yang tersedia berupa harta benda, waktu dan tenaga menurut ukuran keperluan, mengambil jalan tengah, tidak kurang dan tidak berlebihan. Adapun macam-macam penghematan antara lain; penghematan harta benda, penghematan tenaga, dan penghematan waktu.
7.      Bersifat berani
Berani (syaja’ah) bukan semata-mata berani berkelahi dimedan laga, melainkan sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya. Lawan dari sifat berani ( syaja’ah) ialah al-jubnu (pengecut).
8.      Bersifat kuat (Al-Quwwah)
Kekuatan manusia dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu; kuat fisik, kuat jiwa, kuat akal. Kekuatan ini hendaknya dibina dan diikhtiarkan supaya bertambah dalam  diri, dan dapat digunakan untuk meningkatkan amal perbuatan.
9.      Bersifat malu (Al-Haya)
Sebagai rangkaian dari sifat al-haya (malu) ialah malu terhadap Allah dan malu kepada diri sendiri dikal melanggar peraturan-peraturan Allah.
10.  Memelihara kesucian diri (Al-Ifafah)
Al-ifafah (memelihara kesucian diri) ialah menjada diri dari segala keburukan dan memelihara kehormatan hendaknya dilakukan pada setiap waktu. Sebagai kebalaikan dari sikap tersebut ialah sikap memperuntuhkan panggilan hawa nafsu.
11.  Menepati janji
Janji ialah suatu ketetapan yang dibuat dan disepakati oleh seseorang untuk orang lain atau dirinya sendiri untuk dilakukan sesuai ketetapannya. Menepati janji ialah menunaikan dengan sempurna apa-apa yang telah dijanjikan, baik berupa kontrak ataupun apa saja yang telah disepakati[6].

d.      Karakteristik  Akhlakul Karimah
Karakteristik ajaran akhlakul karimah secara dominan ditandai oleh pendekatan normative, historis , dan filosofis. Akhlak islam memiliki ciri-ciri yang secara keseluruhan amat ideal. Karakteristik ajaran akhlakul karimah mengajarkan perdamaian, toleransi terbuka, kebersamaan, egaliter, kerja keras yang bermutu, demokratis, adil, seimbang antara urusan dunia, dan akhirat. Karakteristik ajaran akhlakul karimah memiliki epekaan terhadap masalah-masalah social kemasyarakatan. Dalam bidang kesehatan mengutamakan pencegahan dari pada penyembuhan, memperhatikan kebersihan badan, pakaian, makanan, tempat tinggal, dan lingkungan. Karakteristik ajaran akhlakul karimah juga tampil sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu akhlakul karimah dengan berbagai cabangnya. Karakteristik akhlakul karimah tampak masih belum seluruhnya diketahui dan diamalkan setiap orang,. Kenyataannya masih ada kesenjangan. Hal ini memerlukan pemecahan, antara lian dengan merumuskan kembali metode dan pendekatan dalam memahami karakteristik ajaran akhlakul karimah[7].

e.      Konsep Akhlakul Karimah Dalam Islam
1.      Konsep akhlakul karimah dapat menjelaskan tentang pengertian baik dan buruknya perbuatan manusia.
2.      Konsep akhlakul karimah dapat menerangkan apa yang harus dilakukan oleh seseorang atau sebagian manusia terhadap sebagian lainnya.
3.      Konsep akhlakul karimah dapat menjelaskan tujuan yang sepatutnya dicapai oleh manusia dengan perbuatan-perbuatan manusia itu.
4.      Konsep akhlakul karimah dapat menerangkan jalan yang harus dilalui untuk berbuat yang lebih baik.
Penilaian baik atau buruk dalam ajaran islam tidak hanya ditentukan oleh kenyataan lahiriah suatu perbuatan, islam mengemukakan adanya syarat-syarat unuk mendapatkan suatu yang disebut baik, syarat-syarat tersebut adalah pelaku, penderita, tujuan dan hal-hal lain yang harus dipenuhi atau dikerjakan.
Beramal saleh adalah tindakan yang bermata dua; pertama, bertujuan kearah kesucian diri pribadi. Kedua, menuju kearah kemagfiratan terhadap Allah SWT. Mengingat tiada manusia yang tidak pernah bersalah, maka sangat perlu disadari bahwa dosa menimbulkan rasa sesal, meningkat menjadi tobat  adalah syarat mutlak dalam merintis jalan kearah pembentukan pribadi yang berakhlakul karimah.
Konsep dasar akhlakul karimah dalam perbuatan baik itu adalah iman yang benar dan sempurna, untuk menciptakan iman dapat dicapai dengan memperbanyak amal saleh dan tingkah laku yang mulia, oleh karena itu factor pendidikan dan latiahan menjadi pembahasan khusus dalam akhlakul karimah. Konsep akhlakul karimah dapat menerangkan tentang konsep baik dan buruk, menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam hubungannya dengan sesamanya, dengan tuhannya dan menjelaskan tujuan yang harus dituju  oleh mausia.
Adapun konsep akhlakul karimah dapat berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut :
1.      Dilihat dari objek pembahasan, yaitu membahas tentang yang perbuatan yang dilakukan manusia.
2.      Dilihat dari segi sumbernya, bersumber dari akal pikiran atau filsafat.
3.      Dilihat dari segi fungsinya, berfungsi sebagai penilai atas segala perbuatan yang dilakukan manusia.
4.      Dilihat dari segi sifatnya, bersifat relatif dan bisa berubah-ubah  sesuai dengan tuntutan zaman.
Konsep akhlakul karimah dapat membimbing dan mengarahkan masyarakat untuk hidup sesuai dengan norma dan sopan santun dalam masyarakat. Mengerjakan sesuatu yang berharga untuk suatu tujuan. Sifat-sifat terpuji dalam konsep akhlakul karimah adalah jujur, berbuat baik kepada kedua orang tua, hemat, kasih sayang, sederhana, keadilan, penyantun dan penyabar.
Konsep akhlakul karimah berpatokan kepada hal-hal yang dianggap baik,. Jika berakhlak menurut ajaran islam, tentu selamat dunia dan akhirat. Karena semua itu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan. Oleh sebab itu, harus dapat menumbuhkan sifat-sifat yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran agama islam[8].

3.      Akhlak Mazmumah
Akhlak Mazmumah adalah suatu tingkah laku atau sifat dan sikap yang tercela, yang bisa menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain atau bisa disebut juga akhlak yang jahat (qabihah) yang menurut istilah Al-Ghazali disebutnya “muhlikat”[9] artinya segala sesuatu yang membinasakan atau mencelakakan.
Adapun yang termasuk akhlaqul mazmumah atau qabihah ialah setiap sifat dan sikap yang meliputi : egoistis (ananiah), lacur ( al-baghyu), kikir (al-bukhlu), dusta (al-buhtan), minum khamar (al-khamru), khianat (al-khianah), aniaya (ad-dhulmu), pengecut (al-jubn), perbuatan dosa besar (al-fawahisy), amarah (al-ghadhab), curang dan culas (al-ghasysyu), mengumpat (al-ghibbah), adu domba (an-namimah), menipu daya (al-ghurur), dengki (al-hasad), dendam (al-hiqdu), berbuat kerusakan (al-ifsad), sombong (al-istikbar), mengingkari nikmat (al-kufran), homo sexual (al-liwath), membunuh (qatlunnafsi), makan riba (ar-riba), ingin dipuji (ar-riya’), ingin didengar kelebihannya (as-sum’ah), berolok-olok (as-shikiriyah), mencuri (as-sirqah), mengikuti hawa nafsu (as-syahwat), boros (at-tabzir), tergopoh-gopoh (al-ajalah), dan masih banyak lagi :
1.      Khianat
Khianat adalah akhlaq Mazmumah yang bertolak belakang dengan akhlak mahmudah yakni al-amanah. Khianat adalah salah satu gejala munafik sebagaimana disabdakan Rasulullah saw:
Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia mungki dan jika di percaya (diamanati) ia khianat. (H.R. Muslim)
Betapa pentingnya menjaga amanah dan mempertahankan akhlaq tersebut di dalam suatu masyarakat, karena jika sifat dan sikap itu telah hilang dari suatu ummat, maka kehancuranlah yang akan terjadi bagi Umamat tersebut. Jelas tandas Rasulullah ketika seorang sahabat menanyakan kapan datangnya saat kehancuran:
Apabila hilanh amanah (kesetiaan), maka tunggulah datangnya kehancuran. (H.R. Bukhari)
2.      Dusta
Dusta merupakan kebalikan dari akhlak mahmudah “Ash-Shidqah” (benar). Sifat dan sikap ini membawa kepada bencana dan kerusakan bagi pribadi dan masyarakat. Rasulullah saw menyatakan:
Sesungguhnya dusta itu membawa keburukan dan keburukan itu membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seorang yang membiasakan dirinya berdusta niscaya tercatat di sisi Allah sebagai tukang dusta. (Muttafaq ‘alaih).
Dalam masyarakat yang sudah merajalela dusta dan kecurangan maka akibatnya akan kacau dan kalut. Kecurangan dan keculasan dalam segala bidang pergaulan termasuk dalam bidang administrasi hanya akan mempercepat kehancuran masyarakat itu sendiri. Satu-satunya jalan untuk mencegahnya, adalah dengan mengembalikan keadaan itu kepada prinsip-prinsip kebenaran. Dapatlah dibayangkan akibat-akibat yang akan terjadi jika kebohongan dan keculasan telah membudaya dalam masyarakat? Seperti contohnya dalam berdagan, banyak timbangan yang dicurangi oleh si penjual, dan lain-lain yang nantinya akan menjadi sumber terjadinya korupsi, semua itu menimbulkan bencana dan kerusakan yang besar.

3.      Kedhaliman
Jika adil adalah sifat dan sikap dalam fadilah, maka sebagai kebalikannya yang dimaksud dengan qabilah adalah sifat dan sikap dhalim. Dhalim berarti menganiaya, tidak adil dalam memutuskan perkara, berat sebelah dalam tindakan, mengambil hak orang lain lebih dari batasnya atau memberikan hak orang kurang dari semestinya. Sifat dhalim ini diancam dengan firman Allah dalam Al-Quran:
Tidaklah bagi orang-orang dhalim itu sahabat karib atau pembela yang dapat ditakuti (Q.S 40 Al-Mu’min: 18)

Dhalim merupakan sikap dan sifat yang dapat merusak hidup dan kehidupan manusia. Jika sifat dan sikap tersebut sudah membudaya dalam diri manusia dan masyarakat, maka akan timbul juga kekacauan, kekusutan dan bencana[10].
4.      Ghibah ( Mengumpat)
Ghibah dalam bahasa adalah menjelekan atau menceritakan keburukan orang lain di luar kehadirannya. Adapun makna secara istilah, ghibah dalam syariat dan akhlak Islam ialah membicarakan kekurangan dan aib saudara seagamanya di saat ia tidak hadir, dalam konteks ia akan sakit hati ketika ia mengetahui  pembicaraan tentang dirinya, baik kekurangan sisi agamanya atau moralnya, atau sisi fisik, kata-kata sampai soal rumah, perabotan dan seterusnya[11].
Allah SWT Berfirman, “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik  kepadanya” (Q.S Al-Hujurat: 12)
Ayat ini memberi permisalan bahwa orang yang digunjing ibarat orang mati dan perbuatan menggunjing ibarat memakan daging orang mati. Mungkin ibarat ini maksudnya adalah perbuatan menggunjing saudara seagamanya seperti membunuhnya dan memakan dagingnya setelah ia mati. Itu disebabkan bahwa dampak bagi orang yang di-ghibah itu membuat harga diri dan kehormatannya jatuh (di mata manusia) seperti tumpahnya darah, sulit diperbaiki kembali. Ketahuilah, pengharaman ghibah itu dalam rangka menjaga kehormatan kaum muslimin. Nilai nyawa dan harta orang muslim itu terhormat maka harga dirinya pun terhormat. Sebagaimana menumpahkan darah (membunuh) seorang mukmin itu adalah dosa besar, maka menumpahkannya (menjatuhkan) kehormatannya, martabat dan kepribadiannya juga dosa besar[12].
5.      Sombong

Lawan rendah hati adalah sifat sombong. Tentang kesombongan, ditegaskan oleh Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi :

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِ، وَالْعَظَمَةُ ِإزَاِريْ، فَمَنْ نَازَعَنِيْ ِفيْهِمَا قَََصَمْـتُهُ وَلاَ أُبَالِيْ

Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Siapa melepaskan kedua pakaian itu dari-Ku, maka Aku akan membinasakannya dan tidak akan Aku berikan rahmat kepadanya. (HR Muslim)[13]

Syaikh az-Zarnuji memberi nasihat kepada kita agar menjauhi sifat sombong dalam sebuah syair yang tercantum dalam kitab karya beliau, yaitu “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :

وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّـنَا صِـفَةٌ بِهِ * مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَـنَّبْـنَهَا وَاتَّقِى

Kesombongan adalah satu sifat yang dimiliki Tuhan kita Maka jauhilah sifat itu dan takutlah ( jagalah) dirimu.

Mengapa terkadang bahkan seringkali kita sombong? Kenapa setan berhasil menanamkan sifat itu pada diri kita? Biasanya kita akan menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Namun, adakalanya kita bersikap sombong justru untuk menutupi kekurangan kita. Banyak orang berkata,
“Sudah miskin, sombong pula.”
“Tak punya ilmu tapi lagaknya seperti ahli hadits.”
“Air beriak tanda tak dalam.”
“Tong kosong memang berbunyi nyaring.”

Banyak lagi ungkapan yang menunjukkan kesombongan. Kesombongan sebenarnya tak mempunyai kelebihan sedikit pun. Satu-satunya kelebihan yang dimiliki hanyalah sifat sombong itu sendiri. Dan, sungguh, itu sebuah kerugian.

6.      Menuduh dan Buruk Sangka
Dalam hubungan sosial, menuduh dan buruk sangka adalah sifat dan sikap yang buruk dan termasuk ke dalam aklaq mazmumah. Dosa menuduh lebih berat dari pada ghibah[14]. Tentang masalah ini, kita dapat menemukannya dengan melihat sekali lagi ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang menerangkan tentang keburukan dan kekejian ghibah. Ditambah dengan ayat dan hadits lain yang secara khusus berbicara tentang keburukan menuduh dan siksaan bagi orang yang menuduh.


Kesimpulan

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ini disebut akhlak mahmudah (akhlak yang terpuji) yang tentu saja harus kita teladani, kita harus memiliki akhlak yang mahmudah ini dan menjadikannya sebagai penghias hidup kita.
Karakteristik ajaran akhlakul karimah memiliki epekaan terhadap masalah-masalah social kemasyarakatan. Dalam bidang kesehatan mengutamakan pencegahan dari pada penyembuhan, memperhatikan kebersihan badan, pakaian, makanan, tempat tinggal, dan lingkungan. Karakteristik ajaran akhlakul karimah juga tampil sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu akhlakul karimah dengan berbagai cabangnya. Karakteristik akhlakul karimah tampak masih belum seluruhnya diketahui dan diamalkan setiap orang.

Akhlak Mazmumah adalah suatu tingkah laku atau sifat dan sikap yang tercela, yang bisa menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain atau bisa disebut juga akhlak yang jahat (qabihah) yang menurut istilah Al-Ghazali disebutnya “muhlikat” artinya segala sesuatu yang membinasakan atau mencelakakan.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar